Ketika Nilai Menjadi Tujuan Utama Pendidikan

oleh: Angela Viorent Hara Rania

Subtema: Pembelajaran yang Adaptif dan Mendalam

“Berapa nilaimu di mata pelajaran ini?” sering kali menjadi kalimat pertanyaan yang didahulukan dan dianggap lebih penting dibandingkan dengan “Apa yang telah kamu pahami dari mata pelajaran ini?”. Sebuah perbedaan yang terlihat sepele, tapi nyatanya mencerminkan cara pandang yang sudah lama mengakar dalam dunia pendidikan kita. Nilai tinggi, peringkat kelas, dan berbagai prestasi akademik umumnya dianggap sebagai bukti kemampuan seseorang. Peserta didik yang mendapat angka tinggi dipandang pintar, sementara yang nilainya tergolong rendah dianggap kurang mampu. Padahal, pendidikan yang baik seharusnya tidak hanya mampu menghasilkan individu yang dapat meraih prestasi akademik, tetapi juga individu yang mampu memahami, berpikir kritis, dan berkembang lewat proses belajar yang telah ia jalani.

Pandangan ini telah membentuk sebuah budaya yang berbahaya di lingkungan belajar. Nilai bukan lagi berfungsi sebagai alat ukur pemahaman, melainkan sebagai tujuan itu sendiri. Ketika nilai menjadi tujuan utama, proses belajar yang sebenarnya perlahan mulai tergantikan oleh satu pertanyaan sederhana: bagaimana cara mendapat nilai tinggi dengan usaha sesedikit mungkin?

Salah satu akar dari permasalahan ini adalah keyakinan yang terlanjur meluas di kalangan masyarakat, bahwa nilai adalah cerminan langsung dari kecerdasan dan kemampuan seseorang. Peserta didik dengan nilai sempurna diapresiasi, dijadikan contoh, dan dianggap memiliki masa depan yang cerah. Di sisi lain, peserta didik yang berjuang memahami materi namun nilainya biasa saja sering kali diremehkan, walaupun mungkin ia justru lebih memahami konsep secara mendalam. Alhasil, tekanan untuk mendapatkan nilai tinggi menjadi sangat besar, bukan tekanan untuk benar-benar memahami pelajaran, tapi untuk memastikan bahwa angka di rapor tampak memuaskan bagi orang tua, guru, dan lingkungan sekitar.

Kondisi ini sangat berkaitan dengan fixed mindset yang disebutkan oleh Carol S. Dweck, psikolog asal Stanford University. Dalam penelitiannya yang tertulis dalam jurnal Psychologycal Review dengan judul “Motivational Processes Affecting Learning” (1986), Dweck menjelaskan bahwa individu dengan fixed mindset cenderung memandang kecerdasan sebagai sesuatu yang bersifat tetap dan tidak dapat berubah. Mereka belajar bukan dengan tujuan untuk berkembang, namun untuk membuktikan bahwa mereka mampu, salah satunya lewat pencapaian nilai yang tinggi. Yang terjadi adalah mereka cenderung menghindari tantangan dan lebih memilih tugas yang sudah terjamin mampu dikerjakan dengan baik, demi menjaga kesan “pintar” dari sudut pandang orang lain. Sebaliknya, dalam buku Mindset: The New Psychology of Success (2006), Dweck menjelaskan bahwa individu dengan growth mindset percaya bahwa kecerdasan dapat berkembang melalui usaha dan ketekunan. Mereka memandang bahwa nilai rendah bukan merupakan bukti dari ketidakmampuan, melainkan sebagai tanda bahwa ada hal yang perlu dipelajari kembali. Sayangnya, sistem pendidikan yang terlalu terfokus pada nilai justru cenderung menumbuhkan fixed mindset, dan bukan growth mindset yang tentunya jauh lebih bermanfaat dalam jangka waktu panjang.

Ketika nilai menjadi satu-satunya yang dipedulikan, banyak pelajar akhirnya memilih untuk menggunakan jalan pintas. Belajar hanya dilakukan saat menjelang ujian, dan dengan menggunakan metode hafalan kilat yang akan terlupakan sesaat setelah ujian selesai. Jalan pintas lain yang sudah sangat umum adalah menyalin pekerjaan milik teman, mencari bocoran soal, hingga memanfaatkan berbagai cara tidak jujur demi angka yang tinggi. Yang tak disangka, perilaku ini tidak selalu lahir dari kemalasan, namun dari tekanan yang terlalu besar terhadap hasil, sedangkan tidak ada ruang yang cukup untuk belajar dari proses dan dari kesalahan.

Kejadian ini sejalan dengan temuan Elliot dan Dweck dalam jurnal Journal of Personality and Social Psychology dengan judul “Goals: An Approach to Motivation and Achievement” (1988). Penelitian ini menunjukkan bahwa peserta didik yang terfokus pada tujuan kinerja, yaitu membuktikan kemampuan dengan nilai, cenderung lebih mudah menyerah saat menghadapi kesulitan dan lebih rentan terhadap kecemasan akademik. Di sisi lain, peserta didik yang berfokus pada tujuan belajar, menunjukkan ketahanan yang lebih baik dalam menghadapi tantangan dan memiliki motivasi yang lebih stabil.

Sistem hafalan memperparah kondisi ini. Seorang pelajar dapat menghafal seluruh rumus matematika tanpa pernah benar-benar mengerti mengapa rumus itu bekerja. Ia bisa menyebutkan tanggal-tanggal penting dalam sejarah tanpa memahami konteks dan makna di balik peristiwa tersebut. Marton dan Saljo dalam British Journal of Educational Psychology dengan judul “On Qualitative Differences in Learning” (1976) membedakan dua pendekatan belajar utama, yaitu surface learning dan deep learning. Pendekatan permukaan (surface learning) ditandai dengan hafalan tanpa usaha memahami makna yang lebih dalam, sedangkan pendekatan mendalam (deep learning) mendorong peserta didik untuk menghubungkan pengetahuan dan mampu menerapkannya dalam konteks yang berbeda. Ketika sistem pendidikan terlalu menekankan nilai, peserta didik secara otomatis akan terdorong memilih pendekatan permukaan karena dianggap lebih efisien untuk menghasilkan angka tinggi dalam waktu yang singkat.

Kebiasaan mengutamakan nilai tanpa memperhatikan pemahaman membawa kerugian secara tidak langsung, tetapu nyata dalam jangka panjang. Peserta didik kehilangan kemampuan berpikir kritis karena terbiasa mencari jawaban benar secara instan, bukan mempertanyakan mengapa sesuatu bisa dikatakan benar. Mereka kehilangan rasa ingin tahu karena belajar tidak lagi terasa seperti petualangan mencari hal baru, melainkan menjadi kewajiban untuk mengejar target angka. Terlebih lagi, peserta didik yang terbiasa menggunakan jalan pintas akan kesulitan ketika menghadapi situasi nyata yang tidak menyediakan kunci jawaban. Dunia kerja dan berbagai macam tantangan kehidupan menuntut kemampuan memahami masalah, berpikir kreatif, dan mengambil keputusan. Semua itu tidak dapat diperoleh dari hafalan dengan sistem kebut semalam sebelum ujian.

Mengubah kondisi ini bukan berarti bahwa nilai tidak penting. Niali tetap memiliki fungsinya, yaitu sebagai gambaran perkembangan belajar dan sarana evaluasi untuk mengukur efektivitas pembelajaran. Hattie dan Timperley dalam jurnal Review of Educational Research berjudul “The Power of Feedback” (2007) menegaskan bahwa umpan balik yang efektif bukan sekadar pemberian angka, melainkan informasi yang membantu peserta didik dalam memahami posisi mereka saat ini dan langkah nyata yang perlu dilakukan untuk berkembang. Dengan kata lain, nilai sudah sepatutnya berfungsi sebagai umpan balik, bukan sebagai label yang menentukan kecerdasan dan kemampuan seseorang. Pada akhirnya, pendidikan bukan tentang seberapa tinggi angka yang bisa kita kumpulkan, melainkan tentang seberapa banyak yang benar-benar kita pahami dan dapat kita terapkan dalam kehidupan nyata. Perlu adanya keseimbangan antara hasil dan proses agar peserta didik tidak hanya mampu memperolah nilai yang baik, tetapi juga benar-benar memahami dan dapat berpikir kritis lewat pembelajaran yang telah dijalani. Peta yang paling akurat pun tidak akan ada gunanya jika kita tidak pernah benar-benar melangkah untuk memahami medan yang sesungguhnya.

Referensi:
Dweck, C. S. (1986). Motivational processes affecting learning. Psychological Review, 93(2), 1040-1048.
Dweck, C. S. (2006). Mindset: The New Psychology of Success. Random House.
Elliot, E. S., & Dweck, C. S. (1988). Goals: An approach to motivation and achievement. Journal of Personality and Social Psychology, 54(1), 5-12.
Marton, F., & Saljo, R. (1976). On qualitative differences in learning. British Journal of Educational Psychology, 46(1), 4-11.
Hattie, J., & Timperley, H. (2007). The power of feedback. Review of Educational Research, 77(1), 81-112.